Cinta
Bulan Purnama: part 1
Orang
bilang ia cacat. Pengucapan kata-katanya ketika berbicara agak sulit ditangkap
telingaku. Apalagi kalau ia menggunakan bahasa jawa. Wajahnya terbagi dua.
Paras sebelah kirinya jauh dari apa yang disebut orang jawa sebagai wong bagus.
Tapi sisi kanan menampakkan rupa aslinya yang menawan. Aku suka memandangnya
kalau ia tersenyum dari sudut manapun. Senyum lebar yang sering ia berikan
padaku saat kami berpapasan.
Jari jemari dikedua tangannya panjang-panjang.
Bentuknya hanya itu. Tidak indah. Hanya menjulur saja. Kadang aku perhatikan
jari jemari itu bekerja saat memberi makan ternak sapinya atau waktu mengoper
persneling mobil pick-up hitam yang ia kemudikan untuk mengantar furniture kayu
milik majikannya yang juga pakdenya sendiri. Tapi secara keseluruhan, lengannya
indah.
Rambutnya
biasa. Lurus tebal dan suka ia bagi kekanan lebih banyak. Kalau diperhatikan,
ada pusaran rambut tepat diatas leher belakang. Bulu-bulu halus mengisi pipi
kanan dan kiri hingga terlihat dari belakang jika lebih dekat, saat kami berboncengan sepeda motor, seperti mengatakan bahwa pemiliknya adalah
laki-laki sejati.
Dadanya
bidang. Lebar dadanya menceritakan kebaikan hatinya, dan kasih sayang yang
tulus kepada siapa saja yang ia kenal. Menegaskan kesabarannya menghadapi
tulisan nasib yang mematri status dirinya sebagai orang yang dianugrahi cleft
palate.
Kedua
kakinya kukuh, siaga berteriak kepada siapa pun bahwa mereka adalah tiang-tiang
kokoh yang siap menyangga kehidupan ibunya, dan saudara- saudara. Tingginya
sedang saja. Tapi tidak pendek. Dan ia masih bisa akan lebih tinggi lagi karena
umurnya memang baru menjelang 23 tahun.
Ia
menikmati hidup. Tertawa ketika bisa dan suka menari. Joget dangdut yang suka
ia lakukan dengan jenaka didepanku bagiku adalah tarian yang merayakan hidup
dan perasaannya padaku. Kebetulan aku tidak suka musik tersebut. Dan mungkin tidak
akan pernah suka. Tapi melihat caranya berjoget, aku rela sebagian memori laptopku
untuk menyimpan lagu-lagu ceria itu. Ia suka bernyanyi. Dan aku suka
senandungnya. Tapi nyanyiannya selalu terhenti. Saat ia menyadari keterbatasan suaranya.
Hatinya
gampang terenyuh melihat kesakitan orang. Batinnya mungkin berkaca pada keadaan
dirinya sendiri yang selalu bergulat dengan rasa pedih yang mempertanyakan
mengapa ia lahir dengan membawa ketidak sempurnaan fisik yang membuatnya
menderita batin. Aku tidak tahu seberapa dalam luka itu.
Isi
kepalanya bertolak belakang dengan kemudaan tubuhnya. Dari caranya menasehati
adinda yang manja dan ingin selalu dituruti keinginannya, maupun caranya mematuhi
dan menopang kehidupan kedua orangtua. Kejujuran dan ketegasannya, umurnya bisa jadi sudah 40 tahun. Tujuh tahun lebih tua dariku.
Tekadnya
untuk tidak pernah akan menikah, dan hanya mengabdikan diri dan hidupnya untuk
kedua orangtua bersumber dari rasa putus asa yang sering bertepuk sebelah
tangan dalam percintaan. Kehidupan romantiknya menyedihkan. Beberapa kali ia
jatuh cinta, dengan segenap hati dan perasaan, berkali-kali ia ditolak.
Beberapa ada juga yang memanfaatkannya sebagai pengisi pulsa otomatis.
Kesabarannya
adalah relatif . hanya keluguan anak-anak yang bisa menahannya dari murka.
Siapapun, apapun pangkat, usia maupun jenis kelaminnya tidak akan luput dari tinjunya. Satu yang
bisa membuatnya amat sangat marah. Yaitu
jika ada yang menggodanya dengan menirukan caranya berbicara. Baginya itu
adalah penghinaan atas harga diri.
Perlawanan
terhadap penolakan sesamanya. Sesuatu yang kucoba pahami. Karena memukul orang
apapun alasannya adalah sesuatu yang kurang bisa aku terima. Namun aku mengerti
kehidupan kanak-kanak dan remajanya mungkin juga menjadi pemicu melakukan
agresi. Ketika ia merasa berbeda dengan teman-teman sebaya, ketika orang mulai
melihatnya berbeda, ketika ia merasa kurang diterima dengan adil.. Ia sering
bertanya dengan lantang, siapa yang minta dilahirkan begini?. Maka saat ada
yang meledek dengan menirukan caranya
berbicara, gunung kemarahan yang tertunda seperti menemukan momen untuk meletus
sedahsyat-dahsyatnya.
Tidak
ada manusia yang sempurna.
Bagiku
ia adalah penolong yang setiap saat bersedia meminjamkan tangannya untuk
membantuku. Mulai dari urusan dapur sampai urusan pekerjaan, ia akan datang
tanpa diminta. Mungkin ia iba melihatku. Single parent dengan 3 anak yang masih
kecil-kecil. Jauh dari kedua orangtua, hidup di desa yang berbeda dengan
kehidupanku sebelumnya. Ia tau aku belum lama berpisah dari mesin cuci,
internet, dan pembantu rumahtangga.
Kadang ia marah jika dilihatnya aku mencuci pakaian kotor yang begitu banyak.
Karena disini aku harus melakukannya ditelaga yang cukup jauh dari rumah
tempatku menumpang. Mungkin ia heran mengapa aku betah tinggal didesanya.
Padahal menurutku, desa ini seratus kali lebih nyaman dari tempat manapun
didunia!.
Adalah
telaga tirta berlatar bebukit, yang setiap hari menyapa aku dengan kebeningan
airnya. Adalah kabut tipis membungkus matahari yang tiap pagi menarik kedua mataku terbangun untuk
melihat keindahannya. Adalah manisnya kacang tanah yang ditanam diatas batu
padas bertanah tipis. Adalah senyum
anak-anak desa yang riang menyambutku di pintu
menjelang pengajian TPA. Adalah
masjid bersahaja ditepian telaga. Aku adalah segala sesuatu yang menyenangkan.
Anak-anakku
tumbuh menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Menjadi liar dan tangguh
seperti sebagaimana seharusnya. Dengan kelembutan kasih sayang orang desa.
Meskipun luka terjatuh yang menginfeksi sering menghinggapi tungkai dan lengan
mereka, aku tidak gusar. Nyai Clinton betul juga. Memang butuh orang sedesa
untuk membesarkan anak-anak. Kehilangan papanya tidak banyak berpengaruh bagi
mereka. Karena orang sedesa ini gantinya memenuhi hati mereka.
Ketika
pertama kali aku tiba disini. Rasanya seperti akan pingsan. Tempatnya begitu
jauh. Dan atmosfir perkampungan yang dihuni rumah-rumah berpekarangan luas,
jalan-jalan sepi menurun dan menanjak curam, irama kehidupan desa yang tenang
kadang membuatku tidak kerasan. Namun setelah dua minggu masa transisi yang
dipenuhi air mata, aku mulai terbiasa.
Koneksi
internet yang buruk, biaya komunikasi yang mahal, tidak adanya televisi
memaksaku untuk terfokus pada hubungan antar tetangga. Meski masih gagap dalam beramah tamah, aku
melakukannya juga. Tidak belebihan kalau kukatakan kini aku sedang berlatih
untuk menjadi manusia jawa seutuhnya.
Jarak
dari rumah bulik ku ke kota terdekat adalah sekitar lima
kilometer. Setelah berjalan naik turun, perjalanan bersepeda motor kecepatan
tinggi bisa memakan waktu sekitar 15 menit. Waktu tempuh yang cukup jauh bagi
orang yang terbiasa hidup bersandingan dengan mini market.
Bulik
ku perempuan jawa tulen. Penyabar, wanita solo yang lembut dan jarang marah.
Hatinya lapang seperti rumahnya yang menerimaku dan anak-anak tanpa syarat.
Airmatanya menyambut kedatangan kami
dilingkungan ini dan menyapu keraguanku akan penerimaan yang aku takutkan.
Karena sejatinya yang berhubungan darah dengan ku adalah suaminya. Sedang pak
lik ku yang bekas preman itu tinggal menumpang dirumah isterinya.
Dia,
laki-laki berumur 23 tahun itu adalah keponakan bulikku. Tinggal di seberang
jalan. Selalu melewatkan hari ulang tahunnya yang tidak pernah dirayakan seolah
kehadirannya didunia tidak berarti. Saat aku membutuhkan sesuatu ia selalu ada.
Dan memberikan bantuan tanpa diminta.
Aku
mulai menyadari ada sesuatu yang lain dari perhatiannya. Caranya berinteraksi
dengan anak-anakku, denganku, seolah ia ingin mengisi kekosongan yang ada.
Ketika tepat waktunya, aku yang mengajaknya kembali memberanikan diri untuk membina hubungan dengan seorang
perempuan.
Mulanya
ia tidak percaya bahwa aku suka padanya. Ia bilang aku gila. Tidak waras, ia
tidak tahu bahwa ia adalah laksana segenggam salju yang jatuh dari awan dingin
yang membasahi jerami kering. Dan jerami itu beralih menjadi hijau lagi.
Tapi
kehidupan percintaan kami hanya berumur pendek. Seperti usia telur burung
cendet yang bersarang diatas pohon belimbing disamping rumah. Belum sempat
menetas, sudah terjatuh diusik bocah-bocah usil yang sepi kegiatan.
Aku
mencoba untuk bergeming. Sibuk menghibur diri sendiri bahwa segala sesuatu ada
ajalnya. Sesuatu yang dimulai akan berakhir cepat atau lambat. Dan tentu saja,
kedua orangtuanya tidak akan pernah menyetujui anak laki-lakinya menjalin
hubungan dengan seorang janda beranak tiga. Betapapun tidak ada agama yang
melarang maupun hukum yang dilanggar. Tetapi prinsip orang tidaklah sama. Aku
menelan ramuan pahit ini yang tidak mungkin menyembuhkan apapun.
Mungkin
Tuhan menolongku dengan cara ini. Bukan mungkin. Tapi pasti. Sebab aku yakin
tanpa ada sebab yang begitu penting bagiku dan baginya tidak mungkin Tuhan
memisahkan kami. Keputusan orangtuanya, bude dan kakak sepupunya pastilah yang
terbaik. Apapun alasan mereka, entah demi kepentingan mereka sendiri yang
mengatasnamakan kepentingan dirinya, yang jelas aku saat ini sudah tidak bisa
lagi bertukar cerita dengannya setiap saat. Ini yang terbaik bagi kami. Sulit
sekali untuk mempercayainya, tetapi begitulah.
Kadang
ia seperti menghindari aku. Apalagi jika sedang dibawah pengawasan kedua
orangtuanya. Terlihat sekali ia bingung harus bersikap bagaimana. Mungkin
seharusnya aku tidak ada disini. Tidak menetap disini. Aku hanya menjadi racun..
Hari
ini ulangtahunnya. Aku menahan diri untuk tidak terlalu membesar-besarkan.
Karena tidak mau membuat insiden dengan melakukan hal yang akan membuat dirinya
tambah diawasi. Apalah yang aku akan berikan padanya sebagai hadiah. Honor
mengajarku sudah habis beberapa hari yang lalu. Kiriman dari orangtua belum
akan tiba. Tapi pasti ada yang bisa aku lakukan untuk dia hari ini. Entah apa.
Patah
hati itu sakit. Sakit seperti orang yang dibedah dadanya tanpa bius. Dan dari
pada menjerit, aku lebih suka menangis. Tiga malam. Makin lama tangisannya
makin berkurang. Dan nanti malam aku berjanji tidak ada lagi rasa sedih. Cinta
memang harus diperjuangkan. Tapi tidak oleh sebelah pihak saja.
Selamat
ulang tahun mas. Sepanjang Februari 2011
tidak akan kulupakan.